Ortidewata.com- Buleleng– Tragedi penebasan terjadi di Buleleng saat warga khusuk menjalani catur brata penyepian pada Sabtu,1/03/2026/
Akibat kejadian tersebut pelaku saat ini meringkuk di dalam heruji besi untuk mempertanggung jawabkan hasil perbuatanya.
Kronologis Kejadian pada saat pengerupukan di Desa Joanyar, Kecamatan Seririt, Buleleng pada Kamis (19/3) sekitar pukul 15.00 wita berujung penebasan dengan samurai yang dilakukan Komang Agus Sudiartawan (28) terhadap Kadek Sastrawan (42).
Berawal dari korban menghubungi pelaku melalui chat WA untuk diajak minum sekira pukul 09.30 wita.
Pelaku pun datang ke rumah korban lanjut minum miras bersama korban dan sejumlah rekannya yakni ; Komang Supanca (50), Putu Kawit (60), Ketut Widiana (45), Ngengah Suweta (50), Kadek Rediasa (45), Gede Merta (30), Kadek Nova 25), Putu Sugiana (24), dan Kadek Dion Wahyudi (19) yang semuanya warga Banjar Dinas Kajanan, Desa Joanyar, Kecamatan Seririt.
Saat minum, diduga korban menyinggung pelaku. Sehingga pelaku marah, namun berusaha ditenangkan oleh rekannya yang diajak minum.
Pelaku lanjut mencari korban yang duduk di depanya untuk bertanya apakah yang dimaksud tadi itu menyangkut pelaku apa bagaimana?
“Kemudian pelaku dan korban dilerai dan disuruh pulang,” cerita warga setempat.
Saat pulang, pelaku dikejar oleh korban dan dilempar pakai kursi tetapi tidak mengenai pelaku, kemudian korban mengambil botol bir dan mengancam akan membunuhnya.
Pelaku pulang ke rumahnya dan mengambil pedang jenis samurai lalu pelaku mendekati korban dan menebas korban sebanyak satu kali dan mengenai punggung.
Belum ada keterangan dari kepolisian, namun pelaku sudah diamankan di Mapolsek Seririt dan setidaknya 10 orang sudah dimintai keterangan.
Sementara korban sudah dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan luka di bagian pinggang belakang
Peristiwa penebasan terjadi di Desa Joanyar, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, Bali, saat warga merayakan Hari Raya Nyepi, kejadian tersebut mengejutkan warga karena terjadi di tengah suasana yang seharusnya tenang dan penuh kedamaian.
Dari hasil informasi yang didapatkan, yang juga bersumber dari beberapa unggahan di media sosial, menyebutkan kejadian bermula dari aktivitas minum-minuman yang dilakukan sejumlah orang sebelum Nyepi. Dalam situasi tersebut, terjadi kesalahpahaman yang memicu ketersinggungan hingga berujung pertikaian.
Ketegangan yang tidak terkendali kemudian berubah menjadi aksi kekerasan. Salah satu pihak dilaporkan melakukan penebasan terhadap korban, sehingga menimbulkan luka serius. Warga sekitar yang mengetahui kejadian itu segera berupaya melerai dan memberikan pertolongan.
Peristiwa ini sontak menimbulkan keresahan di lingkungan setempat, mengingat Hari Raya Nyepi identik dengan Berata Penyepian suasana hening dan pengendalian diri. Aparat setempat dilaporkan langsung turun tangan untuk menangani kasus tersebut dan mengamankan situasi.
Hingga saat ini, pihak berwenang masih melakukan penyelidikan untuk memastikan kronologi lengkap serta motif pasti dari kejadian tersebut. Saksi-saksi juga tengah dimintai keterangan guna memperjelas peristiwa yang terjadi
.Kejadian ini menjadi pengingat bagi masyarakat agar tetap menjaga emosi dan tidak terprovokasi, terlebih dalam momen keagamaan yang menekankan ketenangan dan introspeksi diri.(*)





